Author Archive

keypad 4×4 dengan AVR 8535

akhirnya setelah sekian lama bergelut dengan tesis,…. telah sampailah kita pada saat yang berbahagia (lebay….:D).
sebelumnya terima kasih pada pak priyo yang telah berusaha dengan sekuat tenaga agar blog student bisa diakses lagi…T_T.
artikel ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya, namun kali ini dibuat dengan contoh aplikasi menggunakan tampilan LCD.

modul keypad yang digunakan adalah keypad 4×4, dengan LCD 16×2 dan Modul DT AVR Low Cost Micro System yang kesemuanya itu merupakan produk dari Innovative electronics Surabaya(Bukan promosi yah). gambarnya kurang lebih seperti gambar berikut :

koneksi keypad dan LCD ke AVR dapat dilihat pada tabel berikut :

Koneksi Keypad

KEYPAD

DT AVR

VCC Not Connected
GND Not Connected
C1 PORTB.0
C2 PORTB.1
C3 PORTB.2
C4 PORTB.3
R1 PORTB.4
R2 PORTB.5
R3 PORTB.6
R4 PORTB.7

 

Koneksi LCD

LCD

DT AVR

VCC VCC
GND GND
RS PORTC.0
RD PORTC.1
EN PORTC.2
D4 PORTC.4
D5 PORTC.5
D6 PORTC.6
D7 PORTC.7

Program dibuat menggunakan Codevision AVR 2.05

selengkapnya listing programnya sebagai berikut :

#include <mega8535.h>
#include <alcd.h>
#include <stdlib.h>
#include <stdio.h>
#include <delay.h>
char dtkey, dtkeyy;
char buff[33];
int x=0,count,a,y[33];
int e=0;
void key(void)
{
PORTB.7=0;
delay_ms(1);
if (PINB.0==0)
{ dtkeyy=’A’;while(PINB.0==0); }
else if(PINB.1==0)
{ dtkey=3;x++; while(PINB.1==0); }
else if(PINB.2==0)
{ dtkey=2;x++; while(PINB.2==0); }
else if(PINB.3==0)
{ dtkey=1;x++; while(PINB.3==0); }
PORTB.7=1;
PORTB.6=0;
delay_ms(1);
if (PINB.0==0)
{ dtkeyy=’B’;while(PINB.0==0); }
else if(PINB.1==0)
{ dtkey=6;x++;while(PINB.1==0); }
else if(PINB.2==0)
{ dtkey=5;x++;while(PINB.2==0); }
else if(PINB.3==0)
{ dtkey=4;x++; while(PINB.3==0); }
PORTB.6=1;
PORTB.5=0;
delay_ms(1);
if (PINB.0==0)
{ dtkeyy=’C’;while(PINB.0==0); }
else if(PINB.1==0)
{ dtkey=9;x++; while(PINB.1==0); }
else if(PINB.2==0)
{ dtkey=8;x++;while(PINB.2==0); }
else if(PINB.3==0)
{ dtkey=7;x++; while(PINB.3==0); }
PORTB.5=1;
PORTB.4=0;
delay_ms(1);
if (PINB.0==0)
{ dtkeyy=’D’;while(PINB.0==0); }
else if(PINB.1==0)
{ dtkeyy=’#’;while(PINB.1==0); }
else if(PINB.2==0)
{ dtkey=0;x++; while(PINB.2==0); }
else if(PINB.3==0)
{ dtkeyy=’*’; while(PINB.3==0); }
PORTB.4=1;
}
void input(void)
{
awal:
x=0;
e=0;
while(1)
{
key();
count=x;
if(count==1){y[count]=dtkey;}
if (count>=2) {y[count]=(y[count-1]*10)+dtkey;}
if(dtkeyy==’*’)
{
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf(“x”);
a=y[count];
dtkeyy=~dtkeyy;
goto awal;
}

if(dtkeyy==’#’)
{
lcd_clear();
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf(“=”);
a=a*y[count];
dtkeyy=~dtkeyy;
lcd_gotoxy(0,0);
sprintf(buff,”%d”, a);
lcd_puts(buff);
goto awal;
}
e=0+(x-1);
if(dtkey<=9){
lcd_gotoxy(e,0);
sprintf(buff,”%d “, dtkey);
lcd_puts(buff);
}

lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf(” “);

}
}
void main(void)
{ DDRB=0xf0;
PORTB=0xff;
DDRC=0xff;
PORTC=0×00;
lcd_init(16);
input();
}

Program diatas bertujuan untuk membuat perkalian sederhana, dimana karakter (*) pada keypad berfungsi sebagi pengali dan karakter (#) berfungsi sebagai sama dengan (=).
Void Key merupakan fungsi untuk scanning tombol keypad yang ditekan, yang nantinya akan dipanggil pada Void input.
untuk menampilkan angka  pada LCD berdasarkan pada tombol keypad yang ditekan menggunakan perintah :
e=0+(x-1);
if(dtkey<=9){
lcd_gotoxy(e,0);
sprintf(buff,”%d “, dtkey);
lcd_puts(buff);}
perintah di atas akan menggeser karakter yang diinputkan ke kanan satu kali, dan logika “if(dtkey<=9)” bertujuan untuk mendeteksi angka 0 – 9 sehingga karakter lain tidak akan dimunculkan di LCD.
selanjutnya untuk menyimpan data angka yang ditekan dari keypad, digunakan perintah :
if(count==1){y[count]=dtkey;}
if (count>=2) {y[count]=(y[count-1]*10)+dtkey;}
di mana pada jika hanya satu tombol yang ditekan pada keypad, maka angka yang disimpan adalah angka yang ditekan tersebut, dan jika ditekan lebih dari satu tombol, maka angka yang pertama ditekan akan dikalikan dengan sepuluh dan selanjutnya ditambahkan dengan angka yang ditekan selanjutnya.

Selamat mencoba :D

Category: AVR  Leave a Comment

Umur 27 Tahun Khadafy Menjadi Penguasa Libya

Terlepas dari kontroversi tentang beliau,… yang pasti Khaddafy adalah salah satu idola saya,… dan semoga amal ibadanya diterima oleh Allah SWT dan dimaafkan segala kesalahannya,…

berikut sebuah tulisan yang saya ambil dari sini

Karena tidak senangnya dia pada Kepemimpinan Raja Idrus I, yang dianggapnya sebagai Boneka Kolonial Erofa barat, korup dan mengabdikan diri pada kolonial, maka Moammar khadafy menggulingkan Raja Idrus I di tahun 1969. Saat itu usianya barulah 27 tahun, untuk ukuran seorang pejuang dan pemimpin perjuangan rakyat, usia sedemikian itu terbilang relatif sangat muda, itulah salah satu luar biasanya Khadafy.

Pada saat menggulingkan pemerintahan Raja Idrus I, khadafi menyandang pangkat Kapten Angkatan Darat, namun setelah melakukan kudeta pangkatnya naik menjadi Kolonel hingga akhir hayatnya. Sejak itulah pula Libya berubah menjadi republik dan Dewan Komando Revolusi membawahkan pemerintahan, dan itu menjadi awalnya Khadafi menjadi penguasa libya.

Dalam usia semuda itu, Khadafy mengultimatum AS menutup pangkalan militernya, Wheelus Air Base, dekat Tripoli. Seluruh fasilitas harus diserahkan kepada Libya. Wheelus Air Base, salah satu pangkalan udara terbesar AS di negara lain, ditutup tahun 1970.

Sebuah langkah yang sangat berani dari seorang anak muda yang bernama Khadafy, keberaniannya inilah yang membuat famornya naik dan dikenal banyak pemimpin dunia. Kalau Megawati salut dengan nasionalismenya Khadafy tentu sangat wajar, karena Khadafy benar-benar seorang yang sangat mencintai dan melindungi bangsanya, namun karena berkuasa terlalu lama maka dia dianggap dzolim oleh rakyatnya.

Langkah berikutnya, Khadafy menasionalisasi perusahaan minyak asing. Dari pendapatan 1,3 juta-3 juta barrel per hari minyak mentah, pembangunan melaju pesat. Negara yang tadinya melarat dan tertinggal berubah menjadi sejahtera. Indeks pembangunan manusia dan usia harapan hidup di negeri ini tercatat sebagai tertinggi di Afrika.

Fakta ini juga menunjukkan bahwa, bukan hanya keberanian yang dimiliki Khadafy untuk melakukan perubahan, tapi dia memang memiliki visi yang kuat terhadap masa depan negara dan bangsa, dan itu terbukti semua langkah yang dilakukannya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Negara-negara Barat mengabaikan fakta bahwa Khadafy bukan sejenis diktator Presiden Mubarak atau Ben Ali, yang dikenal sebagai boneka AS dan gemar mengoleksi mobil-mobil mewah, perhiasan, dan vila-vila megah untuk berlibur di Eropa.

Khadafy merasa lebih nyaman tidur di tenda-tenda Beduin. Ia tidak bergantung pada kekuatan asing dan tidak mempunyai jabatan resmi dalam struktur pemerintahan, kecuali sebagai ”pemimpin revolusi”. Kekuatan pendiriannya yang membuat sentimen negara barat semakin menjadi, sehingga provokasi barat terhadap rakyat Libya terus gencar dilakukan, sehingga pada akhirnya Khadafy harus mati ditangan rakyatnya sendiri.

Padi – Aku Bisa Menjadi Kekasih

Segalanya kan bisa menjadi baik
Jika kita tak saling menyakiti
Apapun yang sudah terjadi
Bilakah kita harus merelakannya

Memaafkan itu tak seberat memindah samudera
Tak ada yang paling sempurna
Kuserahkan padamu…kepadamu…

Aku bisa menjadi kekasihmu
Aku bisa menjadi teman
Aku bisa menjadi musuhmu
Aku bisa menjadi sahabatmu

Menerjemahkan isi hati
Mungkin lebih baik dengan berbicara
Bukakankah jalannya hidup menjadi mudah
Bila kita saling bisa melengkapi

Memaafkan itu tak seberat memindah samudera
Tak ada yang paling sempurna
Kuserahkan padamu…kepadamu…

Aku bisa menjadi kekasihmu
Aku bisa menjadi teman
Aku bisa menjadi musuhmu
Aku bisa menjadi sahabatmu

“WESTERLING” TOKOH PEMBANTAIAN RIBUAN RAKYAT SULAWESI YANG TAK PERNAH DI ADILI

di copy utuh dari sini

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).
Raymond Pierre Paul Westerling (lahir di Istanbul, Turki Utsmani, 31 Agustus 1919 – meninggal di Purmerend, Belanda, 26 November 1987 pada umur 68 tahun) adalah komandan pasukan Belanda yang terkenal karena memimpin Pembantaian Westerling (1946-1947) di Sulawesi Selatan dan percobaan kudeta APRA di Bandung, Jawa Barat.

Awal Karier
Westerling lahir sebagai anak kedua dari Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Westerling, yang dijuluki “si Turki” karena lahir di Istanbul, mendapat pelatihan khusus di Skotlandia. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember 1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni. Melalui pelatihan yang sangat keras dan berat, mereka dipersiapkan untuk menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia. Seorang instruktur Inggris sendiri mengatakan pelatihan ini sebagai: “It’s hell on earth” (neraka di dunia). Pelatihan dan pelajaran yang mereka peroleh antara lain “unarmed combat” (perkelahian tangan kosong), “silent killing” (penembakan tersembunyi), “death slide”, “how to fight and kill without firearms” (berkelahi dan membunuh tanpa senjata api), “killing sentry” (membunuh pengawal) dan sebagainya. Setelah bertugas di Eastbourne sejak 31 Mei 1943, maka bersama 55 orang sukarelawan Belanda lainnya pada 15 Desember 1943 Sersan Westerling berangkat ke India untuk betugas di bawah Laksamana Madya Mountbatten Panglima South East Asia Command (Komando Asia Tenggara). Mereka tiba di India pada 15 Januari 1944 dan ditempatkan di Kedgaon, 60 km di utara kota Poona.
Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan pasukan khusus, Depot Speciale Troepen – DST (Depot Pasukan Khusus). Awalnya, penunjukkan Westerling memimpin DST ini hanya untuk sementara sampai diperoleh komandan yang lebih tepat, dan pangkatnya pun tidak dinaikkan, tetap Letnan II (Cadangan). Namun dia berhasil meningkatkan mutu pasukan menjelang penugasan ke Sulawesi Selatan, dan setelah ‘berhasil’ menumpas perlawanan rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan, dia dianggap sebagai pahlawan namanya membubung tinggi.

Latar Belakang
Sementara Perjanjian Linggarjati sedang berlangsung, di daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatera, tetap terjadi perlawanan sengit dari rakyat setempat. Walaupun banyak pemimpin mereka ditangkap, dibuang dan bahkan dibunuh, perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan tidak kunjung padam. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda. Para pejabat Belanda sudah sangat kewalahan, karena tentara KNIL yang sejak bulan Juli menggantikan tentara Australia, tidak sanggup mengatasi gencarnya serangan-serangan pendukung Republik. Mereka menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda di Jakarta, bahwa apabila perlawanan bersenjata pendukung Republik tidak dapat diatasi, mereka harus melepaskan Sulawesi Selatan.

Maka pada 9 November 1946, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor dan Kepala Stafnya, Mayor Jenderal Dirk Cornelis Buurman van Vreeden memanggil seluruh pimpinan pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Jakarta. Diputuskan untuk mengirim pasukan khusus dari DST pimpinan Raymond Westerling untuk menghancurkan kekuatan bersenjata Republik serta mematahkan semangat rakyat yang mendukung Republik Indonesia. Westerling diberi kekuasaan penuh untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu.
Pada tanggal 15 November 1946, Letnan I Vermeulen memimpin rombongan yang terdiri dari 20 orang pasukan dari Depot Pasukan Khusus (DST) menuju Makassar. Sebelumnya, NEFIS telah mendirikan markasnya di Makassar. Pasukan khusus tersebut diperbantukan ke garnisun pasukan KNIL yang telah terbentuk sejak bulan Oktober 1945. Anggota DST segera memulai tugas intelnya untuk melacak keberadaan pimpinan perjuangan Republik serta para pendukung mereka.
Westerling sendiri baru tiba di Makassar pada tanggal 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST. Dia mendirikan markasnya di Mattoangin. Di sini dia menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger – VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), di mana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. Suatu buku pedoman resmi untuk Counter Insurgency.

Operasi Militer Tahap Pertama
Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.
Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.
Fase kedua dimulai, yaitu mencari “kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh”. Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama “pemberontak” yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama “Standrecht” – pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.
Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir “pemberontak, teroris dan perampok”. Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.
Demikianlah “sweeping ala Westerling”. Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.
Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.

Tahap Kedua
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan Komara. Pasukan lain mengurung Polobangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Tahap Ketiga
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerjasama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.

Pemberlakuan Keadaan Darurat
Untuk lebih memberikan keleluasaan bagi Westerling, pada 6 Januari 1947 Jenderal Simon Spoor memberlakukan noodtoestand (keadaan darurat) untuk wilayah Sulawesi Selatan. Pembantaian rakyat dengan pola seperti yang telah dipraktekkan oleh pasukan khusus berjalan terus dan di banyak tempat, Westerling tidak hanya memimpin operasi, melainkan ikut menembak mati rakyat yang dituduh sebagai teroris, perampok atau pembunuh.
Pertengahan Januari 1947 sasarannya adalah pasar di Parepare dan dilanjutkan di Madello, Abbokongeng, Padakkalawa, satu desa tak dikenal, Enrekang, Talabangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan Suppa.
Setelah itu, masih ada beberapa desa dan wilayah yang menjadi sasaran Pasukan Khusus DST tersebut, yaitu pada tanggal 7 dan 14 Februari di pesisir Tanete, pada tanggal 16 dan 17 Februari di desa Taraweang dan Bornong-Bornong. Kemudian juga di Mandar, di mana 364 orang penduduk tewas dibunuh. Pembantaian para “ekstremis” bereskalasi di Kulo, Amparita dan Maroangin di mana 171 penduduk dibunuh tanpa sedikit pun dikemukakan bukti kesalahan mereka atau alasan pembunuhan.
Selain itu, di aksi-aksi terakhir, tidak seluruhnya “teroris, perampok dan pembunuh” yang dibantai berdasarkan daftar yang mereka peroleh dari dinas intel, melainkan secara sembarangan orang-orang yang sebelumnya ada di tahanan atau penjara karena berbagai sebab, dibawa ke luar dan dikumpulkan bersama terdakwa lain untuk kemudian dibunuh.
H.C. Kavelaar, seorang wajib militer KNIL, adalah saksi mata pembantaian di alun-alun di Tanette, di mana sekitar 10 atau 15 penduduk dibunuh. Dia menyaksikan, bagaimana Westerling sendiri menembak mati beberapa orang dengan pistolnya, sedangkan lainnya diberondong oleh peleton DST dengan sten gun.
Di semua tempat, pengumpulan data mengenai orang-orang yang mendukung Republik, intel Belanda selalu dibantu oleh pribumi yang rela demi uang dan kedudukan. Pada aksi di Gowa, Belanda dibantu oleh seorang kepala desa, Hamzah, yang tetap setia kepada Belanda.

Peristiwa Galung Lombok
Peristiwa maut Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Ini adalah peristiwa pembantaian Westerling, yang telah menelan korban jiwa terbesar di antara semua korban yang jatuh di daerah lain sebelumnya. Pada peristiwa itu, M. Joesoef Pabitjara Baroe (anggota Dewan Penasihat PRI) bersama dengan H. Ma’roef Imam Baroega, Soelaiman Kapala Baroega, Daaming Kapala Segeri, H. Nuhung Imam Segeri, H. Sanoesi, H. Dunda, H. Hadang, Muhamad Saleh, Sofyan, dan lain-lain, direbahkan di ujung bayonet dan menjadi sasaran peluru. Setelah itu, barulah menyusul adanya pembantaian serentak terhadap orang-orang yang tak berdosa yang turut digiring ke tempat tersebut.
Semua itu belum termasuk korban yang dibantai habis di tempat lain, seperti Abdul Jalil Daenan Salahuddin (Qadhi Sendana), Tambaru Pabicara Banggae, Atjo Benya Pabicara Pangali-ali, ketiganya anggota Dewan Penasihat PRI, Baharuddin Kapala Bianga (Ketua Majelis Pertahanan PRI), Dahlan Tjadang (Ketua Majelis Urusan Rumah Tangga PRI), dan masih banyak lagi. Ada pula yang diambil dari tangsi Majene waktu itu dan dibawa ke Galung Lombok lalu diakhiri hidupnya.
Sepuluh hari setelah terjadinya peristiwa yang lazim disebut Peristiwa Galung Lombok itu, menyusul penyergapan terhadap delapan orang pria dan wanita, yaitu Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A. Zawawi Yahya (Ketua Majelis Pendidikan PRI), Abdul Wahab Anas (Ketua Majelis Politik PRI), Abdul Rasyid Sulaiman (pegawai kejaksaan pro RI), Anas (ayah kandung Abdul Wahab), Nur Daeng Pabeta (kepala Jawatan Perdagangan Dalam Negeri), Soeradi (anggota Dewan Pimpinan Pusat PRI), dan tujuh hari kemudian ditahan pula Ibu Siti Djohrah Halim (pimpinan Aisyah dan Muhammadiyah Cabang Mandar), yang pada masa PRI menjadi Ketua Majelis Kewanitaan.
Dua di antara mereka yang disiksa adalah Andi Tonran dan Abdul Wahab Anas. Sedangkan Soeradi tidak digiring ke tiang gantungan, melainkan disiksa secara bergantian oleh lima orang NICA, sampai menghebuskan nafas terakhir di bawah saksi mata Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas.

Pasca Operasi Militer
Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger – VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.
Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: “Pasukan si Turki kembali.” Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.
Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST dirubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.

Korban
Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.
Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya “hanya” 600 orang.
Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh ijin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.
Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kadaluarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.

 

Ramang…..

Dahulu tim sepakbola Indonesia pernah disegani di Asia, bahkan Eropa. dimana tekonologi belum terlalu digunakan dalam sepak bola. Era dimana kemampuan fisik masing-masing pemain lebih berperan dari formasi dan taktik. Di era itu, ada satu nama pesepakbola yang luar biasa. Salah satu bakat terpendam tanah air Indonesia yang kemampuannya diakui dunia. Dia adalah Ramang, pesepakbola asal Makassar yang namanya mengangkasa, dan terlupakan.

Ramang dilahirkan di Makassar, tahun 1928. Ayahnya, Nyo’lo, merupakan Ajudan raja Gowa Djondjong Karaenta Lemamparang yang dikenal sebagai jagoan sepak raga. Sejak kecil Ramang sudah terlihat mewarisi bakat bal-balan ayahnya. Ia kerap berlatih dengan seadanya. Bola anyaman rotan, gulungan kain, hingga buah jeruk kecil menjadi teman berlatihnya.

Pada tahun 1947, Ramang bergabung ke klub sepakbola Makassar Voetball Bond (MVB), yang kini dikenal dengan nama PSM Makassar. Sebelum berlabuh di klub besar tersebut, Ramang membela Persis (Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi). Bakatnya tersendus oleh scout dari PSM ketika memperkuat tim tersebut dalam sebuah turnamen yang diadakan oleh PSM. Ramang mencetak 7 gol dalam sebuah pertandingan dan membawa Persis menang 9-0 dalam kompetisi tersebut.

Tanpa menunggu lama, PSM segera mengontrak pemain bertubuh mungil tersebut. Hanya setahun di PSM, Ramang telah melanglang buana ke seluruh penjuru daerah di Indonesia. Ketika ia kembali ke Makassar, seseorang menawarinya pekerjaan sebagai opas di Dinas Pekerjaan Umum. Gajinya hanya Rp.3500,- per bulan dan tidak pernah naik. Namun Ramang menerimanya dengan hati terbuka. Maklum, ketika itu sepakbola belum dapat dijadikan mata pencaharian tetap. Pekerjaan sampingan Ramang sebelum dikontrak PSM adalah kernet dan tukang becak. Namun akhirnya ia meninggalkan dua pekerjaan tersebut, bukan karena gajinya di PSM mencukupi, namun ia lebih mencintai sepakbola. Hal tersebut membuat kehidupan Ramang yang saat itu sudah berkeluarga, sangat memprihatinkan. Keluarganya tinggal menumpang di rumah seorang teman.

Dukungan dari sang istri yang tabah dan setia membuat Ramang dapat fokus bermain bola. Sampai akhirnya bakat luar biasa Ramang membuatnya terpilih memperkuat tim nasional Indonesia (kala itu bernama tim PSSI) pada tahun 1952.

Prestasi Ramang di tingkat nasional amat cemerlang. Dirinya dikenal sebagai striker haus gol yang tak lelah bergerak ke segala arah dengan kecepatan tinggi sambil melepas tendangan dnegan akurasi tinggi. Pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Ketajaman Ramang membuat nama Indonesia disegani di tingkat sepakbola dunia. Beberapa tim terbaik dunia kala itu berebutan ingin menjajal kekuatan timnas Indonesia. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara, salah satu kiper terbaik dunia waktu itu, klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Yashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein.

Namun Ramang adalah pribadi yang rendah hati, ia mengatakan bahwa prestasi timnas kala itu tak lepas dari perjuangan rekan-rekannya, bukan dirinya semata.

Ramang adalah pesepakbola dengan bakat alami murni. Sebagai penyerang, ia kerap mencetak gol dari berbagai sudut, bahkan sudut mustahil sekalipun. Permainannya pun sedap dipandang mata. Salah satu kemampuan khusus Ramang adalah tendensi dan presisi untuk melepaskan tembakan salto. Tak jarang ia merobek jala lawan dengan sepakan akrobatik yang aduhai. Satu di antaranya yang paling diingat adalah saat PSSI mengalahkan RRC dengan skor 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto.

Kelihaian Ramang di lapangan bola membuat seluruh Indonesia mengenalnya. Bahkan pada era akhir 50 an, banyak ibu-ibu menamai anak mereka ‘Ramang’.

Pertandingan paling berkesan adalah ketika Indonesia bertemu Uni-Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Kala itu Uni-Soviet memegang predikat sebagai salah satu raja sepakbola dunia, dengan pertahanan yang digalang kiper legendaris Lev Yashin. Hebatnya, Indonesia berhasil menahan tim tersebut dengan skor kacamata. Ramang bahkan hampir saja mempermalukan Uni-Soviet dengan mencetak gol, namun gagal karena kausnya ditarik pemain belakang lawan sebelum sempat menceploskan bola.

Namun waktu terus berjalan, roda kehidupan terus berputar. Untuk Ramang, singkat saja dirinya berada di puncak kejayaan. Sinarnya meredup setelah dirinya terkena skorsing pada tahun 1960. Pria bersahaja ini dituduh menerima suap. Ketika dipanggil kembali pada tahun 1962, sinarnya telah pudar. Ramang akhirnya pensiun total dari sepakbola pada tahun 1968 dalam usia 40 tahun. Klub terakhir yang dibelanya adalah PSM Makassar.

Namun Ramang tidak meninggalkan lapangan hijau. Ia kembali sebagai pelatih dan sempat membawa tim Persipal Palu menjadi tim yang disegani di Indonesia. Ramang juga pernah melatih klub yang membesarkan namanya, PSM Makassar (sampai sekarang, salah satu julukan PSM Makassar adalah ‘Pasukan Ramang’). Namun ternyata dunia kepelatihan terlalu kejam untuk Ramang. Ia disingkirkan secara perlahan dari dunia itu hanya karena tidak memiliki ijasah kepelatihan. Padahal racikannya yang bermaterikan pengalaman pribadi dan teori yang didapatnya dari pelatih timnas PSSI Tony Pogacnick berhasil membuat jeri lawan-lawan tim yang dilatihnya.

Ramang tetap menerima semua hal itu dengan lapang dada dan legowo. Untungnya lagi, ia tidak sampai harus berhenti menggeluti dunia yang dicintainya karena isu-isu miring tersebut.

Pada tahun 1981, setelah melatih anak-anak PSM di bawah guyuran hujan, Ramang sakit. Selama enam tahun ia berjuang melawan sakit radang paru-paru yang menggerogotinya tanpa mampu berobat ke Rumah Sakit. Ramang memang hidup amat sederhana pada masa tuanya. karena sekali lagi, gaji seorang pelatih bola kala itu tidak bisa dijadikan penopang seseorang yang telah berkeluarga. Ramang hanya jebolan Sekolah Rakyat, tanpa ijasah, semua jadi sulit.

Pada tahun 1987, salah satu legenda terbesar sepakbola Indonesia ini mengehembuskan nafas terakhir di kediamannya yang amat sederhana. Ia menghuni rumah kecil tersebut bersama anak, menantu dan cucunya, semua berjumlah 19 orang.

Kini, yang cukup menyedihkan, nama Ramang seakan sudah dilupakan. Tenggelam di bawah nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Bambang Pamungkas, dan Irfan Bachdim. Satu-satunya pengingat orang-orang akan keberadaannya hanyalah sebuah patung sederhana di pintu utara lapangan Karebosi, Makassar.

Mari kita kenang kembali keberadaan mereka yang pernah mengangkat nama Indonesia di mata dunia pada suatu era, walaupun hanya lewat sepakbola.

sumber :  wikipedia dan salah satu thread di kaskus, (linknya lupa :D)

 


Hyperterminal untuk AVR 128 Bootloader Microsystem

untuk mentransfer data dari mikrokontroller DT-AVR 128 Bootloader Microsistem ke PC menggunakan rs232 bisa menggunakan program ini, untuk menginstalnya mungkin membutuhkan netframework 4 yang dapat didownload di sini selamat mencoba….

Category: AVR  Leave a Comment

Ketindihan (sleep paralysis)

Di Copy Utuh dari http://nasional.kompas.com/read/2008/09/21/1407118/misteri.di.balik.tindihan

Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? Tenang, Anda bukan sedang diganggu mahkluk halus. Ini penjelasan ilmiahnya!

KEJADIAN ini sering saya alami sejak zaman SMA, bahkan hingga sekarang (meski frekuensinya sudah sangat berkurang). Saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap, saya merasa seperti ditindih sesuatu. Ini membuat saya sulit bangun ataupun berteriak minta tolong.

Lalu, ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.

Setelah itu, biasanya saya tidak berani tidur. Takut kesadaran saya hilang atau kejadian itu berulang lagi. Apalagi saat kejadian, saya seperti melihat sebuah bayangan di kegelapan.
Pernah saya saya bercerita tentang hal ini pada ibu saya. Beliau mengatakan saya mengalami tindihan. Dan menurut kepercayaan orang tua, yang menindih adalah makhluk halus. Ih, seram ya! Namun, logika saya berusaha mencari penjelasan ilmiah. Inilah hasilnya

Sleep Paralysis
Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.

Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.

Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.

Kurang Tidur
Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).

Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.

Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).

Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.

Jangan Anggap Remeh
Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea(mendengkur), kecemasan, atau depresi.

Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.

Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.

Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.

Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.

Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara

- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.
- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.
- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.
- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.
- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.
- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.
- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.
- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.
- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.

Saya…

Saya adalah seorang Pria berdarah Bugis dilahirkan di sebuah desa yang sekarang udah jadi kelurahan :D, namanya padaidi, tepatnya di lingkungan barugae, dan Alhamdulillah udah 27 tahun lebih saya merasakan nikmat Allah SWT.

Sekarang saya berstatus sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB, pada mayor Teknik Mesin Pertanian dan Pangan, sekarang saya sedang melakukan penelitian dibidang Prescision Farming,  tepatnya kontrol aplikator alat penebar pupuk berbasis lokasi dengan menggunakan Transplanter yang dimodifikasi, RTK-DGPS, AVR dan banyak lagi alat lainnya, saya bernaung di bawah laboratorium Teknik Mesin dan Otomasi TMB FATETA IPB.

dan saya sangat senang jika ada yang ingin sharing ilmu tentang mikrokontrol terutama AVR dalam aplikasi di bidang pertanian atau lainnya, dan juga tentang Computer Programming dan lainya, pokoknya ada hubungannya dengan komputer :D.

 

AVR dan Keypad

Baiklah,…. berhubung deadline laporan progres penelitan udah mau menyentuh hidung alias udah mepeeett,… mending ngeblog dulu ah….(Don’t try this,…trust me!!!). dan kali ini  tentang penggunaan keypad untuk input mikrokontroller,…. dengan cara polling tanpa interupt,… kalo cara interface keypad dengan AVR sendiri sih, ada banyak banget, kalo mau,..tanya aja sama om gugle,…

ok udah basa basinya, keypad itu ada yang 3×4, ada yang 4×4 dan ada juga yang lainnya, (yang pernah saya pake baru yang 3×4 sama 4×4, hehehehe…). modelnya umumnya  kayak gini:

kali ini kita menggunakan keypad 4×4, dan skematiknya seperti gambar berikut,….

baiklah, mari kita bahas cara kerja dari keypad ini,…  prinsipnya sih kalo ditekan dia bernilai 1 kalo tidak ditekan bernilai 0,(tergantung rangkainnya, bisa juga sebaliknya), nah sekarang  jika kita memberikan logika 1 pada Row(baris) 0, maka jika tombol “1″ ditekan maka col(kolom) 0 akan bernilai 1, sementara kolom  yang lain di baris 0 akan bernilai 0, dan selanjutnya jika tombol “2″ ditekan maka kolom 2 akan bernilai satu dan kolom yang lain dibaris o akan bernilai 0, begitu seterusnya sampai tombol “A”, dan begitupun untuk baris selanjutnya….

jadi untuk mendeteksi tombol yang ditekan kita tinggal mencari kombinasi dari 8 bit pin yang bernilai 1 pada baris dan kolomnya (dalam kasus penggunaan keypad seperti ini), sebagai contoh, kombinasi pin untuk tombol “1″, baris 0 bernilai 1 dan baris lainnya bernilai 0, kolom 1 bernilai 1 dan kolom lainnya bernilai satu,, sehingga untuk menyatakan tombol satu dalam bilangan biner, urutannya sebagai berikut, baris 0, baris1, baris2, baris3, kolom1, kolom2, kolom3, kolom4 ato tombol 1 = 0b10001000, lebih jelasnya dapat kita liat pada tabel berikut:

Perlu dicatat, bahwa tabel di atas tidak selamanya sesuai dengan keypad yang ada, intinya liat aja gambar skematiknya dan prinsip kerja dari tiap2 keypad…..

untuk contoh potongan scriptnya seperti di bawah (keypad yang ini buatan innovative electronics surabaya, dan menggunakan AVR yang aktive low, jadi berkebalikan dengan tabel di atas jika di tekan akan bernilai 0)

void detek_key(void)

{PORTA.7=0;PORTA.6=1; PORTA.5=1; PORTA.4=1;

if(PINA ==0b01111110){dtkey=0xc; while (PINA ==0b01111110);  }

else if (PINA == 0b01111101){dtkey=3; x++; while (PINA ==0b01111101);}

else if (PINA == 0b01111011) {dtkey=2; x++; while (PINA ==0b01111011);}

else if (PINA == 0b01110111) {dtkey=1;x++; while (PINA ==0b01110111);}

PORTA.7=1; PORTA.6=0; PORTA.5=1; PORTA.4=1;

if(PINA ==0b10111110){ dtkeyy=0xd; while (PINA ==0b10111110); }

else if (PINA == 0b10111101) {dtkey=6; x++; while (PINA ==0b10111101);}

else if (PINA == 0b10111011) {dtkey=5;x++; while (PINA ==0b10111011);}

else if (PINA == 0b10110111) {dtkey=4; x++; while (PINA ==0b10110111);}

PORTA.7=1; PORTA.6=1; PORTA.5=1; PORTA.4=0;

if(PINA ==0b11101110){dtkeyy=0xf; while (PINA ==0b11101110);}

else if (PINA == 0b11101101) {dtkey=0xb; while (PINA ==0b11101101);}

else if (PINA == 0b11101011) {dtkey=0; x++; while (PINA ==0b11101011);}

else if (PINA == 0b11100111) {dtkey=0xa; while (PINA ==0b11100111);}

PORTA.7=1; PORTA.6=1; PORTA.5=1; PORTA.4=1;

if(PINA ==0b11101110){dtkey=0xf;while (PINA ==0b11101110);}

else if (PINA == 0b11101101) {dtkey=0xb; while (PINA ==0b11101101);}

else if (PINA == 0b11101011) {dtkey=0; x++; while (PINA ==0b11101011);}

else if (PINA == 0b11100111) {dtkey=0xa; while (PINA ==0b11100111);}

PORTA.7=1; PORTA.6=1; PORTA.5=0; PORTA.4=1;

if(PINA ==0b11011110){dtkey=0xe; while (PINA ==0b11011110);}

else if (PINA == 0b11011101) {dtkey=9;x++; while (PINA ==0b11011101);}

else if (PINA == 0b11011011) {dtkey=8; x++; while (PINA ==0b11011011);}

else if (PINA == 0b11010111) {dtkey=7; x++; while (PINA ==0b11010111);}}

 

Bersambung dilain waktu insya Allah dengan script yang lebih lengkap :D……

Category: AVR  Leave a Comment

Perkenalan ke AVR lanjutan

Interrupt Function

sebagai mana namanya, fungsi ini akan menginterupsi program yang sedang diproses dan mengerjakan program lain yang ada dalamnterrupt Service Routine (ISR) yang akan melakukan apapun yang harus dilakukan saat terjadi interupsi.  interupsi ini biasa digunakan ketika prosessor harus segera merespon ke   interrupt  atau dalam kasus-kasus dimana sangat tidak efektif atau boros untuk prosessor dalam memilih sebuah perintah untuk dilaksanakan. sebagai ilustrasi, ketika kita sedang mengerjakan sesuatu kemudian tiba-tiba atasan kita memerintahkan melakukan hal lain dengan segera, maka kita akan meninggalkan pekerjaan yang sedang kita lakukan untuk sementara waktu sampai tugas yang diberikan oleh atasan yang harus dilakasanakan segera, dapat kita selesaikan, dan selanjutnya kita kembali kekegiatan semula. atau contoh lain, saat kita sedang membaca buku, kemudian tiba-tiba telpon berdering, sehingga kita akan berhenti membaca buku untuk mengangkat telepon dan setelah selesai kita kembali melanjutkan membaca buku.



Contoh dari aplikasi yang sangat berguna lainnya dari interrupt seperti pada perangkat input. Sebagai contoh pada aplikasi keypad, dengan kemampuan dari mikrokontroller untuk memproses instruksi-instruksi yang sangat cepat, sementara manusia lebih lambat. maka sangat boros dan tidak efektif bagi prosessor untuk menunggu salah satu keypad ditekan oleh manusia. perihal ini, penekanan pada keypad mungkin dapat menyebabkan sebuah interrupt dan mikrokontrol dapat beristirahat dalam artian berhenti memproses untuk menunggu salah satu key di tekan untuk melakukan sesuatu berdasarkan perintah dari penekanan key tersebut. jika key ditekan dimana pertama-tama beberapa hal diperlukan untuk menyebabkan tereksekusinya sebuah perintah, prosessor akan kembali untuk menunggu key selanjutnya sampai key dianggap cukup untuk mengeksekusi sebuah perintah. penggunaan interrrupt membebaskan prosessor dari memilih keypad secara konstant sehingga prosessor berada  pada tingkat yang jauh lebih cepat dari yang kita dapat menekan tombol.

Setiap Interrupt memiliki alamat vektor yang ditugaskan ke bagian yang rendah dalam memori program. Compiler menempatkan alamat permulaan dari yang terkati dengan Interrupt Service Routines dan instuksi melompat relatif pada lokasi vektor pada setiap interrupt. Ketika terjadi  interrupt, program akan selesai mengeksekusi instruksi yang sedang berlangsung kemudian  bercabag atau menuju lokasi vektor yang terkait dengan interrupt tersebut. Program kemudian mengeksekusi relative jump instruction ke  ISR dan mulai mengeksekusinya. ketika terjadi interrupt, return address ( alamat dari instruksi selanjutnya yang akan dieksekusi setelah interrupt selesai dieksekusi) disimpan pada System stack. Instruksi terakhir Service routine interrupt adalah sebuah instruksi bahasa assembly RETI, yang mana adalah return from interrupt. Instruksi ini menyebabkan return address dimunculkan dari stack dan program dilanjutkan dari titik dimana program tersebut diinterupsi.

Pada prosessor AVR, semua interrupt memiliki prioritas yang sama, oleh karena itu sebuah interrupt tidak dapat menginterupsi yang lain, tetapi dua interrupt dapat terjadi serentak. dalam kasus ini,  interrupt dengan nilai vektor paling rendah akan dieksekusi pertama. Mengacu pada tabel vektor pada spesifikasi prosessor.

 

selanjutnya,…mungkin dengan contoh program ^^V

Category: AVR  Leave a Comment